Berangkat naik pesawat menuju Sulawesi tentu saja menjadi hal yang menegangkan. Pertama kali ke luar jawa (bahkan madura saja blum pernah kuinjak), lalu pertama kali terbang menjadi unsur penambah thrill dalam tugas kali ini.
Di bandara Hasanuddin yang megah saya dijemput oleh dua rekan sejawat yang baik hati, bang Petong dan Pak Kemis yang sudah lebih dulu bertugas di Makassar. Mampir makan sejenak sebelum menuju hotel.
Hotelnya di dekat Panakukkan Square, kecil tapi lumayan nyaman. Sayang ga ada view-nya, tembok semua di dalam kamar. Masih untung ada AC dan TV kabel
Anyway, Jumat 16 Februari pelantikan di Kanwil Makassar setelah sebelumnya check out dulu. Di sana ketemu banyak wajah2 lama baik dari kampus dulu maupun dari Surabaya. Dunia memang kecil (atau Indonesianya ya yang kecil?)…
Rencana ke Mamuju masih belum jelas kapan, jadi menginap dulu di tempat Pak Sumin yang baik hati itu selama 2 malam. Saya diajak wisata kuliner, jalan2 sekitar Pantai Losari yang sayangnya mendung melulu. Pak Kemis juga sempat mampir dan ngajak puter2 kota sekalian ke Benteng Rotterdam yang sayangnya nampak kesepian di tengah gempuran kemajuan kota Makassar.
Di Kanwil bertemu rekan dari Mamuju dan Alhamdulillah diajak bareng ke sana hari Minggu malam. Rute darat minimal 10 jam, makanya banyak yang pergi malam. Jalanan yang sepi menjadi alasannya.
Dimulailah perjalanan itu melintasi Trans Sulawesi yang lumayan mulus dan tengah berbenah. Sebagian jalan yang kulewati mulai dibeton seperti Jalan Mayjend Soengkono Surabaya. Semoga infrastruktur semakin baik sebab urat nadi pergerakan ekonomi pulau ini sangat penting. Luar Jawa apalagi.
Masuk Mamuju siang hari dan langsung menuju kantor. Sedikit shock dan agak gak nyaman melihat kota yang dikelilingi bukit dan laut itu. Suasana asing mempengaruhi kali ya?
Secara umum kota Mamuju masih sepi walaupun jelas tengah berbenah sebab dengan status sebagai ibukota propinsi Sulbar tidak pantas rasanya kalau tidak berbenah banyak…Kantor juga begitu, mewakili masalah klasik infrastruktur. Listrik di siang hari harus mengalami pemadaman sehingga mengganggu arus pekerjaan di kantor. Untung malam harinya relatif terang benderang, maksudnya baru mati lampu sekali hehehe..
Seminggu disana, pekan berikutnya langsung dijadwalkan ke Surabaya lagi. Masih banyak urusan yang harus diselesaikan di Surabaya soalnya.
Naik bis PIPOSS dari terminal Mamuju yang gelap menuju Makassar dan hei…bisnya bagus dan nyaman sehingga ketika melewati rute perbukitan ala Need for Speed dari Mamuju ke Majene-nya tidak terlalu terasa memusingkan meskipun tidak bisa dipungkiri agak mabuk darat karena AC nya yang dingin sekali.
Dari Makassar langsung terbang ke Surabaya……halah, gaya pol. Belum pernah naik pesawat eh dalam seminggu sudah dua kali bolak balik lintas Jawa Sulawesi.
No Comments »
Tahun baru belum lagi resmi, bahkan 31 Desember baru menginjak adzan maghrib tapi sungguh kejutan memang tak pernah mengenal waktu.
Setelah bertahun-tahun hidup di kota berkode telepon 031 alias Surabaya, negara menugaskanku untuk menjalani paling tidak 2 tahun mendatang di kota berkode telepon 0426.
Surat keputusan itu muncul begitu saja menjelang malam di intranet kantor dan whatta surprise….saya yang tidak berpikir untuk pindah atau kena dipindah ternyata harus pindah juga.
Kota yang berkode 0426 itu adalah Mamuju, ibukota propinsi Sulawesi Barat. Disanalah bulan2 mendatang saya harus bertugas. Mendadak sontak segala rencana harus ditata ulang, segala keinginan harus ditunda sejenak sebab ini adalah hal besar. Belum lagi sementara meninggalkan istri dan putri kecil di rumah.
Mamuju sebagai ibukota propinsi bungsu Sulawesi Barat jelas tengah berbenah dan meski cemas, selalu ada harapan menjalani hari-hari ke depan. Apalagi pantainya nampak cantik nian ketika aku sengaja googling mencari informasi.
Siap atau tidak, berangkat!!!
5 Comments »
Dalam pekerjaan apapun, rasanya karakter seseorang selalu menjadi hal utama untuk dipertimbangkan. Bahkan kadang-kadang para pemberi kerja itu menghabiskan sumber daya hanya untuk membentuk karakter para pegawainya. Ada pelatihan, seminar, ESQ, outbond, teka teki silang, pengawasan melekat dsb dsb
Nah, dalam skala yang lebih sederhana yaitu rumah tangga rata2 orang juga punya karyawan yang lebih kita kenal sebagai pembantu rumah tangga, baby sitter, rewang, apalah namanya….Sadar tidak sadar, pekerjaan mereka adalah pekerjaan yang paling membutuhkan karakter positif. Dibutuhkan karakter tertentu yang harus dimiliki guna mempertahankan pekerjaannya sekaligus memenuhi ekspektasi rumah tangga yang telah membayarnya.
Karakter seperti sopan, santun, rajin, asertif, proaktif, telaten, dan sekian deret karakter positif lainnya harus melekat dalam inner mereka *istilahku, rek* Anyway, kesadaran itu mendadak muncul ketika mbak yang selama ini mengasuh si kecil harus istirahat beberapa saat karena kondisi kesehatannya yang menurun.
Betapa kalang kabutnya kami. Istri terpaksa mengambil cuti, setelah itu ganti aku yang cuti. Ibu dari kampung halaman dengan perasaan tidak enak terpaksa kami minta untuk ke Surabaya sebentar, menemani si kecil yang mendadak harus ditinggal mbaknya itu.
Bicara karakter, mbak yang ini punya segala karakter yang dibutuhkan untuk menjadi baby sitter yang baik. Sopan, proaktif, asertif, telaten sama si kecil, bahkan mau mengerjakan pekerjaan di luar tugasnya sebagai baby sitter semata. Sadar tidak sadar, tanpa karakter tersebut, kami tidak akan tenang meninggalkan si kecil sendirian di rumah bersamanya.
Orang2 seperti ini tidak perlu yang namanya pelatihan, ESQ, ISQ, segala macam Q yang lain karena internal quotient *istilah opo maneh iki* dirinya telah memenuhi syarat. Dalam skala yang besar, coba bayangkan seandainya perusahaan memiliki karyawan dengan karakter yang quotient apapun-nya tepat. Tak perlulah mereka keluar dana besar hanya untuk agar karyawan itu datang tepat waktu, rajin, tidak korupsi, asertif, sopan, santun, dan sebagainya. Iya kan?
Kembali ke topik, bagi siapapun yang punya pembantu/baby sitter dengan karakter yang tepat saya pikir penghargaannya juga harus tepat. Tidak harus berupa materi, tapi sikap kita sehari-hari menunjukkan seberapa berharga ‘karyawan rumah tangga’ itu bagi kita. Jika kita seenaknya, janganlah heran kalau turnover pembantu anda demikian cepat. Setahun ganti pembantu sampai lima kali, misalnya.
5 Comments »
* Sekedar pikiran kosong tanpa mengurangi rasa hormat pada pihak-pihak yang dideskripsikan disini *
Semalam, ada SMS dari nomor asing, kujawab, menjawab lagi, kujawab siapa ya, menjawab lagi, tapi kali ini jawabannya menyebutkan satu nama kembang kelas SMA dulu. Langsung dapat diduga ini SMS dari teman lama yang iseng. Benar saja, ternyata SMS itu datang dari sesama alumni SMA yang bukan kebetulan sekarang menjadi Danramil di utara pulau Sumatera sana.
Anyway, saya menjadi berpikir satu hal….betapa ya pesona dan persona seseorang bisa begitu melekat dalam benak banyak orang bahkan hingga berbelas tahun lamanya sehingga dalam percakapan atau hubungan SMS nama persona itu muncul begitu saja. Jauh dari alam bawah sadar kami semua. Bahkan ada yang menjadikannya semacam benchmark dalam menilai calon pasangan idealnya….imagine that.
Kembang kelas yang saya ceritakan itu tidak pernah kuketahui lagi dimana posisinya sekarang. Yang jelas sudah berkeluarga, tapi ya itu tadi seperti muncul dari alam bawah sadar seringkali menjadi bahan pembicaran sesekali.Muncul di saat-saat tertentu, tertulis di SMS-SMS tertentu, begitu saja. Seperti ada kerinduan untuk menjalani masa-masa SMA dimana bahkan ketika kembang kelas ini masuk kelas seolah seluruh kelas terhenti beberapa detik (ok, agak berlebihan but it happens…)
Kalau dalam kepercayaan Jawa, orang kalo dirasani dilambangkan dengan kesandung pas berjalan atau kegigit bibirnya sendiri atau alisnya tiba-tiba berkedut
Nah, bayangkan berbelas tahun seringkali jadi bahan percakapan meskipun sekilas…Bagaimana rasanya ya, Mbak Ayu? Kesandung, Kegigit, Alis Berkedut.
(Ok terlalu berlebihan, but it happens!!)
4 Comments »
Tanggal 1 Desember, harga premium resmi turun dari 6000 rupiah menjadi 5500 rupiah. Turun 500 rupiah. Bagi yang kapasitas tangkinya puluhan liter, tentu selisih 500 rupiah akan terasa lumayan. Bagi yang kapasitas tangkinya tak lewat dua digit, 500 bisa berarti bisa tidak – tergantung kapasitas dompet tentu saja.
Anyway, merasa aneh saja ketika tiba-tiba seluruh persediaan premium menghilang dari pompa2 bensin terdekat. Lenyap tak berbekas. Banyak yang antri begitu tahu harga bensin turun, katanya. Sementara stok baru belum dikirim.
Anehnya begini, kalau tiba-tiba besok harga premium naik maka wajar saja orang antri sampai tengah malam sebelum lonceng kenaikan harga itu berdentang. Sebab kalau terlambat maka alamat akan mengalami kerugian selisih harga.
NAH….kenapa ketika harga turun, kok perilakunya sama sebangun? Antri dulu-duluan pingin beli dengan harga yang murah itu. Sederhana saja, apa iya ada tenggat waktu turunnya premium ini sebelum kemudian naik lagi? Sebulan saja kah berlakunya harga 5500 ini?
Saya pikir kok tidak ya….Menaikturunkan harga barang sestrategis premium itu gak segampang memasang label harga baru pada sabun mandi di warung. Jadi tentu saja saya pikir ga perlu rasanya antri dan menghabiskan stok premium pada hari itu juga.
Entahlah, kadang-kadang bingung memikirkannya.
Akibat premium tiada maka dengan gagah berani motor tua milik saya kucekoki dengan pertamax. Harga 6900 rupiah/liter. Kalau yang ini tentu saja tergantung kapasitas dompet.
Premium, cepatlah kembali….Tak perduli meski kau turun harga….Jangan pergi.
Bukan begitu?
6 Comments »
Anakku tiba-tiba beranjak remaja…
Usianya baru 2 tahun
Dengan pelafalan yang masih belum jelas dan kegembiraan murni seorang anak, aku sebagai orangtua berusaha menjaganya dalam kewajaran perkembangan. Setiap pagi kuajak dia berjalan-jalan, bermain ayunan favoritnya di taman dekat rumah. Kami ajarkan dirinya lagu-lagu ciptaan Bu Sud dan Pak Kasur yang abadi dan tulus. Kami ajarkan dia untuk berkasih sayang dan mengembangkan pengetahuan melalui serial-serial Teletubbies, Curious George, Mimi dan Teman-Teman, serta serial mendidik lainnya
Kami ingin anak kami tumbuh sewajarnya.
Sampai kemudian aku menyaksikan anak-anak yang lain telah begitu cepat beranjak dewasa. Aku menyaksikannya di RCTI, televisi yang pernah paling gagah berani dan pertama kali, tapi kini seperti kehilangan taji menghadapi ketatnya persaingan produksi.
Idola Cilik 2 namanya. Kulihat seorang anak yang kuyakin belum lewat delapan tahun usianya menyanyikan Air dan Apinya NAIF – tema mengenai pertengkaran pasangan – tahu apa anak seusia itu?
Lalu mereka beramai-ramai menyanyikan Bukan Superstar PROJECT POP. Lagu yang lucu. Tapi lirik…sexy badannya/ Mulan Jameela….tau apa putri kecil seusia itu tentang sexy?
Aku tidak tahu lagu-lagu apalagi yang mereka nyanyikan. Aku tidak perduli sebab susah menikmati kelanjutannya
Atau aku yang mulai kehilangan jarak dengan realitas? Ataukah justru anak-anak itu yang melampaui realitas?
Belum lagi penampilan anak-anak itu yang sudah begitu ‘seleb’ di atas panggung. Rambut spike, sudut senyum ala selebritis (dewasa) kita di infotainment, merasa bahwa para gadis akan menjerit2 bila melihatnya tersenyum……
Kalau mereka sudah sedemikian dewasa, gayanya, lagu yang dipilihnya, senyumnya, tatap matanya….maka anakku yang usianya baru 2 tahun berarti sudah memasuki masa remaja….
Sedih merasakannya.
(what so called) Mama Ira, siapapun di bagian produksi acara ini, tolonglah sejenak berpikir tentang kami para orang tua yang begitu ingin anaknya tumbuh kembang sewajarnya. Lagu-lagu tadi akan dikenalnya – tentu saja – tapi bukan sekarang saatnya. Bukan sekarang.
Ataukah aku yang mulai kehilangan jarak dengan realitas??
1 Comment »
*Sepenuhnya opini pribadi dan ditulis dalam bahasa yang mudah dipahami – semoga - *
Negara, dimanapun, bersendikan pada kemampuannya untuk membiayai kelangsungan hidupnya. Seperti halnya rumah tangga, sumber pembiayaan itu bermacam-macam asalnya. Sederhananya, dari luar berupa pinjaman dan dari dalam berupa pajak.
Pajak, suka tidak suka, jelas menjadi elemen penting bagi negara. Republik kita yang bernama Indonesia juga harus terus menerus memperluas basis pengenaan pajaknya. Sebab, kita tidak bisa lagi berhutang terus kesana kemari. Bahkan seandainya negara kreditur itu baik hati dan tidak sombong, Indonesia harus berdiri di kaki sendiri tanpa mengandalkan sikap baik hati dan tidak sombong negara lain.
Nah, dalam Undang Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (UU KUP) yang baru ada perlakuan berbeda bagi orang yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) dengan yang tidak. Perlakuan itu muncul dalam bentuk insentif tarif bagi yang punya NPWP dan jelas bagi yang tidak atau belum ber-NPWP akan menanggung beban pajak yang lebih besar.
Masalahnya adalah, orang yang sudah berkesadaran untuk mendaftarkan diri untuk memiliki NPWP seringkali tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa ada kewajiban intrinsik yang melekat pada kartu NPWP yang dimilikinya tersebut.
Bagi Wajib Pajak yang sumber penghasilannya lancar, ada kewajiban membayar dan melaporkan pembayaran itu ke Kantor Pelayanan Pajak. Ini ideal tentu saja. Masalah muncul bagi yang sudah ber-NPWP tapi masih nihil penghasilannya dan lupa bahwa walaupun nihil, dirinya masih memiliki kewajiban lapor SPT Masa ke Kantor Pelayanan Pajak tiap bulan.
Di dalam pasal 7 UU KUP, ada denda sebesar Rp.100.000,- per bulan bagi yang tidak/terlambat melaporkan SPT Masa Pajak Penghasilan ke Kantor Pelayanan Pajak. Lebih seram lagi, bagi yang tidak/terlambat melaporkan SPT Masa PPN dendanya malah Rp. 500.000,- per bulan
Banyak Wajib Pajak yang kemudian tersentak (hihi…) begitu menerima Surat Tagihan Pajak dengan angka ratusan ribu tersebut sementara usaha mereka bahkan belum menghasilkan sesuatu yang signifikan.
Disini yang terjadi adalah masalah penegakan hukum perpajakan berhadapan dengan empati sosial bagi orang-orang yang –jujur saja – tidak memahami banyak masalah perpajakan. Jangankan memahami perpajakan, menghadapi perikehidupan yang semakin sulit saja mereka juga bingung….
Sudah untung (atau malah buntung?) mereka rela mendaftarkan diri untuk ber-NPWP dengan berbagai macam maksud, eh kok kadang2 mereka malah direpotkan dengan tagihan-tagihan pajak begitu ya?
Ada mekanisme untuk mengajukan peninjauan kembali atas STP tentu saja, tapi tetap saja it’s burdensome bagi orang-orang seperti mereka
Bagi yang paham pajak, CMIIW….
2 Comments »
Andra & The Backbone seperti pulau kecil tapi indah di peta musik Indonesia, tidak terasa berlebih-lebihan dalam musik, tidak merengek-rengek dalam lirik, tapi terasa benar bahwa orang-orang di belakangnya bijaksana dalam menyikapi trend musik yang ada.
Kemarin, baru benar-benar menikmati satu single-nya Andra & The Backbone yang berjudul Hitamku.
Jan, enak tenan. Tidak tahu akan berapa ratus bahkan ribu kali saya akan memutarnya berulang-ulang.
Andra, Stevie, dan sapa tuh vokalisnya? * Sori, lali * Tabik buat kalian
1 Comment »
Kapan itu nonton acara musik di salah satu stasiun TV sewasta.
Ada video klip, ada live juga
Nah, beberapa grup COWOK muncul tentu saja. Mereka kan lagi ngetrend. Lagu2nya (katanya) keren. Tapi sayang liriknya cemen. Selingkah selingkuh. Patah hati jadi dua. Merana menderita.
Kemudian muncul Prisa. Tampil garang dengan gitar Flying V kalo ga salah. Judul lagunya Muka Dua. Rock punya. Lirik bertenaga
Apa iya tidak malu cowok-cowok tadi mendengarnya? Cewek lebih garang dalam menulis lirik-lirik lagunya.
Kalau saya sih………ya malu dong.
2 Comments »
Tak perlu malu dan kecil hati apalagi frustasi
Terlampau keji bila terlintas hendak membunuh diri
Kegagalan itu hal biasa dalam hidup ini
Setiap orang pasti punya satu masalah dan masa lalu
Anggap derita sebagai cobaan dan satu pengalaman
Yang mesti dapat kita hadapi dengan hati yang lapang
Kegagalan itu hal biasa dalam hidup ini
Setiap orang pasti punya satu masalah dan masa lalu
Reff:
Teman, hidup ini hanya satu kali
Teman, untuk apa kita menyiksa diri
Hadapilah semua, kenyataan yang ada
Serta raihlah cita-cita hidup bahagia
Anggap derita sebagai cobaan dan satu pengalaman
Yang mesti dapat kita hadapi dengan hati yang lapang
Kegagalan itu hal biasa dalam hidup ini
Setiap orang pasti punya satu masalah dan masa lalu
Back to reff

No Comments »
|