Mamuju : Pekan Pertama
February 1st, 2009 by setyandaruBerangkat naik pesawat menuju Sulawesi tentu saja menjadi hal yang menegangkan. Pertama kali ke luar jawa (bahkan madura saja blum pernah kuinjak), lalu pertama kali terbang menjadi unsur penambah thrill dalam tugas kali ini.
Di bandara Hasanuddin yang megah saya dijemput oleh dua rekan sejawat yang baik hati, bang Petong dan Pak Kemis yang sudah lebih dulu bertugas di Makassar. Mampir makan sejenak sebelum menuju hotel.
Hotelnya di dekat Panakukkan Square, kecil tapi lumayan nyaman. Sayang ga ada view-nya, tembok semua di dalam kamar. Masih untung ada AC dan TV kabel
Anyway, Jumat 16 Februari pelantikan di Kanwil Makassar setelah sebelumnya check out dulu. Di sana ketemu banyak wajah2 lama baik dari kampus dulu maupun dari Surabaya. Dunia memang kecil (atau Indonesianya ya yang kecil?)…
Rencana ke Mamuju masih belum jelas kapan, jadi menginap dulu di tempat Pak Sumin yang baik hati itu selama 2 malam. Saya diajak wisata kuliner, jalan2 sekitar Pantai Losari yang sayangnya mendung melulu. Pak Kemis juga sempat mampir dan ngajak puter2 kota sekalian ke Benteng Rotterdam yang sayangnya nampak kesepian di tengah gempuran kemajuan kota Makassar.
Di Kanwil bertemu rekan dari Mamuju dan Alhamdulillah diajak bareng ke sana hari Minggu malam. Rute darat minimal 10 jam, makanya banyak yang pergi malam. Jalanan yang sepi menjadi alasannya.
Dimulailah perjalanan itu melintasi Trans Sulawesi yang lumayan mulus dan tengah berbenah. Sebagian jalan yang kulewati mulai dibeton seperti Jalan Mayjend Soengkono Surabaya. Semoga infrastruktur semakin baik sebab urat nadi pergerakan ekonomi pulau ini sangat penting. Luar Jawa apalagi.
Masuk Mamuju siang hari dan langsung menuju kantor. Sedikit shock dan agak gak nyaman melihat kota yang dikelilingi bukit dan laut itu. Suasana asing mempengaruhi kali ya?
Secara umum kota Mamuju masih sepi walaupun jelas tengah berbenah sebab dengan status sebagai ibukota propinsi Sulbar tidak pantas rasanya kalau tidak berbenah banyak…Kantor juga begitu, mewakili masalah klasik infrastruktur. Listrik di siang hari harus mengalami pemadaman sehingga mengganggu arus pekerjaan di kantor. Untung malam harinya relatif terang benderang, maksudnya baru mati lampu sekali hehehe..
Seminggu disana, pekan berikutnya langsung dijadwalkan ke Surabaya lagi. Masih banyak urusan yang harus diselesaikan di Surabaya soalnya.
Naik bis PIPOSS dari terminal Mamuju yang gelap
menuju Makassar dan hei…bisnya bagus dan nyaman sehingga ketika melewati rute perbukitan ala Need for Speed dari Mamuju ke Majene-nya tidak terlalu terasa memusingkan meskipun tidak bisa dipungkiri agak mabuk darat karena AC nya yang dingin sekali.
Dari Makassar langsung terbang ke Surabaya……halah, gaya pol. Belum pernah naik pesawat eh dalam seminggu sudah dua kali bolak balik lintas Jawa Sulawesi.
